Rossy, itulah namaku. Gadis yang manja dan
cerewet. Aku mempunyai sahabat kecil yang sangat aku sayangi, dia Alam. Alam
sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri. Selisih kelahiranku dengannya hanya
4 bulan. Alam adalah sosok pria yang pemalu perhatian. Sejak dulu dia selalu
bermain ke rumahku yang kecil dibandingkan dengan rumahnya yang cukup megah.
Sering sekali dia makan di rumahku, karena selera makan kita yang selalu sama.
Saat aku membantu ibu di dapur. Tiba..tiba..
“Tok..to..tok..” terdengar suara pintu
yang diketuk dari luar. Kucoba untuk membukanya, ternyata tamu itu adalah Alam.
Segera kupersilahkan duduk di sofa ruang tamu. Waktu itu umur kita baru 5
tahun.
“Ada apa Lam?” Tanyaku.
“Aku hanya ingin main monopoli
dengannmu”. Jawab Alam
Memang kita sangat suka dengan permainan
yang satu ini. Selain asyik, permainan ini juga membuat Alam betah jika di
rumahku. Bahkan dia juga jadi malas pulang. Yang paling aku suka dari permainan
ini adalah kemenanganku setiap bermain. Tapi entah mengapa Alan selalu saja
mengajakku untuk terus bermain walaupun dia juga selalu kalah.
“Kalah lagi kan kamu ?” ejekku.
“Suatu saat nanti aku pasti akan
mengalahkanmu !” timpas Alam.
Setelah lama bermain monopoli. Hari
sudah semakin gelap, kupersilahkan Alam untuk pulang karena orangtuanya sudah
menjemput di luar.
“Sudah sana pulang, ayahmu sudah
menunggu tuh di luar” perintahku.
“Oke..oke tapi ingat ya, aku akan
mengalahkanmu”. Balas Alam.
Aku hanya tersenyum kecut melihat
tingkahnya.
***
Hari ini Alam genap berumur 6 tahun. Rencananya
ulangtahun dai akan dirayakan. Biasalah anak manja, ucapku dalam hati. Malam
itu aku pergi bersama ibu untuk datang ke ulangtaun Alam sambil membawa kado pistol air. Sengaja
kubelikan sepasang pistol air, satu untuk Alam dan yang satunya lagi untukku.
Aku yakin dia pasti menyukainya.
“Selamat ulangtahun yah” ucapku.
“Iya, terimakasih Ros” jawab Alam.
Setelah lama bercanda tawa dengan Alam,
dan ibu pun asyik berbincang-bincanmg dengan orangtua Alam. Aku pun memutuskan
untuk pulang karena hari yang sudah larut malam.
Keesokan harinya, Alam datang ke
rimahku. Dia membawa sesuatu di tangannya. Tak ku sangka, yang dia bawa adalah
pistol air yang di kado olehku.
“Berani lawan aku nggak?” tantang Alam.
“Oke..siapa takut !” jawabku
Crot.. crot.. crot. Suara pistol air
yang mendarat di mukaku. Kami asyik dengan permainan pistol air itu. Tanpa ku
sadari, kita sudah lama dengan permainan ini, dan kami pub cukup lelah.
Akhirnya Alam pun memutuskan untuk pulang saja.
Setiap hari, Alam datang ke rumahku
hanya untuk bermain pistol air. Permainan monopoli yang biasa kita mainkan kini
tergantikan dengan permainan pistol air. Kegiatan itu kami lakukan hampir
setiap hari. Bahkan permainan pistol air ini tetap berlanjut sampai kita masuk
Taman Kanak-Kanak (TK).
Di TK pun kami duduk satu meja. Setiap
hari aku berangkat sekolah dengannya. Jika Alam tidak masuk, aku pun juga tidak
masuk. Begitu pula sebaliknya. Di masa TK aku semakin akrab dan begitu dekat
dengannya. Tetapi aku tkut, karena jika lulus TK Alam akan pergi ke Jakarta dan
bersekolah di sana. Dan itu berarti, Alam akan jauh denganku.
Kali ini Alam datang ke rumahku dengan
membawa kabar yang kurang menyenangkan.
“Aku akan pindah ke Jakarta Ros.” Ucap
dia.
“Berapa lama?” Raut wajahku berubah menjadi pucat. Aku sangat
tidak rela jika kehilangannya.
“Aku akan sekolah di sana.” Ujar Alam.
Aku hanya terdiam.
***
Hari demi hari ku lalui tanpa sahabat
kecilku. Hari yang biasanya peunh tawa dengan Alam, kini menjadi biasa-biasa
saja. Aku selalu berdo’a agar Alam tidak akan melupakanku dan cepat kembali.
***
6 tahun berlalu, Aku sudah lulus SD. Dan
sekarang aku memasuki salah satu SMP di kotaku. Aku mulai dapat berinteraksi
dengan teman-teman, aku pun mendapatkan kenyamanan di sana.
“Ke kantin yuk, Ros?” kata seorang cewek
di belakangku.
“Ogah ah, aku masih mau di kelas.”
Jawabku.
Cewk itu adalah Isna. Isna lah yang
paling mengerti akan keadaanku, dia juga menjadi pendengar setia semua
curhatanku tentang Alam. Aku merasa sangat nyaman jika didekatnya. Dia sering
mengajariku pelajaran IPS yang kurang kupahami.
“Kenapa lagi kamu Ros?” Tanya Isna
kepadaku.
“Aku hanya teringat dengan Alam.”
Jawabku dengan lesu.
“Sudahlah, suata hari nanti pasti dia
akan kembali kok.” Ujar Isna menenangkanku.
Isna juga yang menyemangatiku jika aku
sedang punya masalah. Aku senang mendengar nasihat dia, karena ucapannya yang
begitu dalam dan bermakna. Layaknya seorang psikolog..he..he..he. Senyumku
dalam hati.
***
Sebulan berlalu setelah peneriamaan
raport kenaikan kelas. Aku sekelas lagi dengan Isna. Mungkin sudah jodoh kali
ya, ucapku dalam hati.
“Rosy tunggu !.”
Terdengar suara dari kejauhan
mwmanggil-manggil namaku. Kutengokkan kepalaku ke belakang. Rupanya Isna yang
memanggilku. Dengan tergopoh-gopoh Isna menghampiriku.
“Ada apa sih?” Tanyaku.
“Itu loh anak baru, keren banget !”
Jawab Isna.
Aku hanya membalas dengan senyuman. Lalu
kutinggalkan dia pergi, karena ada tugas OSIS yang harus ku kerjakan.
“Eh tunggu dulu donk” Ucap Isna lagi.
“Apa lagi sih?” Tanyaku dengan wajah
heran.
“Kamu bener-bener nggak mau lihat dia
nih?” Tanya Isna.
“Nggak ah, males !” Jawabku.
Saat aku berjalan menuju ke kelas.
Tiba-tiba ku lihat anak yang wajahnya mirip sekali dengan Alam, sahabat
kecilku. Tetapi aku tak memperdulikannya, mungkin hanya perasaanku saja yang
begitu kangen dengan Alam.
Saat pelajaran Matematika berlangsung,
tiba-tiba.... tok.. tok.. tok
Kepala Sekolah datang dengan membawa
seorang anak cowok. Sepertinya yang dikatakan Isna memang benar, ada anak baru
di sini. Setelah ku pandang betul-betul, wajahnya mirip dengan Alam. Dan dia
ternyata memang Alam, sahabat kecilku yang telah lama pergi.
Aku sangat bahagia dengan semua ini.
Akhirnya do’aku terkabul. Segera ku katakan pada Isna, bahwa cowok yang berdiri
di depan kelas adalah Alam. Isna pun terkejut, dia juga sangat bahagia
melihatku bahagia.
Waktu istirahatpun tiba, segera
anak-anak bertubrukan ke kantin.Aku lebih memilih untuk pergi ke perpustakaan
untuk membaca buku dengan Alam.
“Aku kangen banget sama kamu Ros.” Ucap
Alam.
“Aku juga kangen, gimana di Jakarta?”
Tanyaku kepada Alam.
“Di Jakarta panas, sering macet pula.”
Jawab Alam.
Setelah lama berbincang-bincang dengan
Alam, tak terasa bel masuk telah berdering. Alam mengajakku untuk kembali ke
kelas. Rupanya Alam juga merasakan hal yang sama denganku. Dia juga sangat
kangen dengan permainan monopoli dan pistol air.
Seusai
pulang sekolah, Alam datang ke rumah. Lagi-lagi dia datang hanya ingin bermain
pistol air dan monopoli saja. Aku pun menuruti kemauannya. Walaupun sudah kelas
8 SMP, kalau urusan main, kamilah jagonya. Kuarahkan pistol air itu ke wajah
dan juga bajunya sampai basah. Alam pun tak mau kalah, dia menyerangku lebih kejam
lagi.
“Sudahlah, aku lelah.” Ucapku dengan
wajah memelas.
“Ya sudahlah, aku pulang saja.” Ucapnya.
Alam pulang dengan baju yang basah,
mungkin setelah itu dia akan dimarahi oleh ibunya yang super cerewet.
***
Seminggu kemudian Alam mengajakku ke
suatu tempat. Dia membawaku ke belakang rumah neneknya. Di sana ada pohon besar
tempat biasa kita bermain.
“Mau apa sih” Tanyaku.
“Lihat nih !” Jawab Alam seraya
menunjukan ukiran di pohon itu. Dia mengukir nama ‘Rosy & Alam’.
“Persahabatan kita tidak akan pernah berhenti
sampai kapanpun” Ucap Alam.
“Aku sangat bahagia mempunya sahabat
sepertimu, Lam” Ucapku.
Pohon itu menjadi saksi antara 2 sahabat
yang saling menyayangi selamanya.
SELESAI...