Rabu, 22 April 2015

TRANSISI DEMOGRAFI

TRANSISI DEMOGRAFI
Disusun oleh
Rosyana Anggraen
Rombel 4
6411414089
IKM UNNES

A.    Pengertian Transisi Demografi
Transisi Demografi adalah proses perubahan kematian dan kelahiran yang berlangsung dari tingkatan yang tinggi ke tingkatan yang rendah dalam suatu kurun waktu pada masyarakat tertentu. Transisi Demografi muncul akibat perubahan yang terjadi di masyarakat, diantaranya adalah masalah sosial ekonomi yang memiliki hubungan timbal balik terhadap kesehatan. Transisi Demografi di Indonesia telah didahului dengan revolusi penurunan kematian dan dewasa ini sedang terjadi revolusi penurunan kelahiran. Angka yang memperhitungkan kemungkinan si bayi perempuan meninggal sebelum mencapai masa reproduksinya atau yang biasa disebut NRR (Net Reproduction Rate) pada beberapa provinsi sedang mendekati 1 yaitu DI Yogyakarta, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Bali. Konon menyusul Sulawesi Utara. Dengan NRR sama dengan satu, rata-rata seorang ibu setelah masa hidupnya akan diganti oleh seorang anak perempuannya, dengan kata lain ada pertumbuhan kelahiran pada penduduk.
Di balik Transisi Demografi ada pembangunan, hakekat pembangunan adalah perubahan. Yaitu perubahan yang selalu menuju masyarakat yang lenih baik. Dalam rangka inilah berkembang berbagai paradigma pembangunan nasional. Pembangunan nasional Indonesia mengandalkan pertumbuhan, yang diukur dengan pertumbuhan  pendapatan nasional. Dengan disadarinya masalah distribusi pendapatan nasional ke tangan rakyat maka pemerataan menjadi penting. Pembangunan pun dijalankan agar dapat berlanjut terus, tanpa harus menguras habis sumber daya alam. Demikianlah, pembangunan nasional Indonesia dijalankan untuk medapatkan pertumbuhan dengan pemerataan yang juga harus bersifat berkelanjutan.
Seperti yang diketahui bahwa sasaran utama umum pembangunan nasional jangka panjang kedua adalah peningkatan kualitas hidup bangsa Indonesia yang tentunya juga mencakup kualitas kesehatan bangsa. Dengan banyaknya faktor pengganggu baru seperti kemajuan IPTEK, sedangkan faktor pengganggu lama yaitu pengaruh kekentalan budaya belum dapat dituntaskan masalahnya, maka perlu kewaspadaan di masa yang akan datang secara lebih serius.
Dalam Transisi Demografi menurut Bogue (1965) tahap transisi adalah sebagai berikut:
1.      Pratransisi (Pre-Transitional)
Ditunjukkan dengan tingkat fertilitas dan mortalitas yang tinggi. Pertumbuhan berada pada tingkat yang tinggi dan berlangsung lama. Tingkat kematian yang tinggi dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindarkan karena pada saat itu belum ada sanitasi, transportasi dan pengobatan modern. Dengan tingkat kematian yang tinggi dianggap sebagai sesuatu yang tidak memaksa masyarakat untuk menganut nilai-nilai sosial budaya yang mendukung adanya tingkat kelahiran yang tinggi sebagai imbangan agar dapat mempertahankan keturunan.
2.      Tahap Transisi (Transitional)
Ditunjukkan dengan tingkat fertilitas tinggi dan mortalitas rendah. Tingkat kematian (mortalitas) mulai rendah sebagai akibat dari proses pembangunan ekonomi dan mulai meningkatnya taraf hidup. Akan tetapi, pada tahap ini tingkat kelahiran (fertilitas) masih tinggi meskipun sudah ada kecenderungan untuk turun, tetapi tingkat penurunanya masih lebih rendah dibanding dengan penurunan tingkat kematian. Hal ini disebabkan nilai budaya pada waktu itu mendukung tingkat kelahiran yang tinggi  sudah membudaya dan melembaga sebagai suatu kepercayaan, sikap dan nilai serta tergolong sulit untuk berubah.
3.      Tahap Pasca Transisi (Past Transitional)
Dinyatakan dengan tingkat fertilitas dan mortalitas sudah rendah. Tiap individu secara sadar sudah mulai mengendalikan tingkat kelahiran. Pengendalian secara sadar inilah yang menjadi ciri pokok dari tahap transisi akhir pada transisi demografi. Selama tahap ini berlangsung tingkat kelahiran terus turun secara perlahan menuju tingkat keseimbangan dan tingkat kematian yang sudah rendah. Hampir semua masyarakat mengetahui cara pemakaian alat kontrasepsi. Tingkat kelahiran dan kematian mendekati keseimbangan, pertumbuhan penduduk amat rendah dalam jangka waktu yang panjang.

B.     Penyebab terjadinya Transisi Demografi

1.      Tingkat Kesehatan
Rendahnya tingkat kesehatan di Indonesia dikarenakan pemerintah tidak bisa menempatkan orang yang benar-benar mengerti tentang kesehatan program yang dipaksakan yang jelas tidak bisa dijelaskan tetapi anggarannya banyak. Puskesmas daerah yang banyak menyerap anggaran hanya membuat laoran di atas meja setiap tanggal 20-25 untuk tutup buku akhir bulan, di lapangan satu kerja bisa dilaksanakan lima program dan dapat tanda tangan sekali jalan tanpa mau tahu programnya.
2.      Keadaan Geografis
Keadaan geografis suatu tempat dapat dilihat dari kenyataannya di muka bumi atau letak suatu tempat dalam kaitannya dengan daerah lain di sekitarnya. Keadaan ini ditentukan oleh fenomena-fenomena geografis yang membatasinya.
3.      Kebijakan Politik
Dalam lingkungan politik terdiri dari hukum, badan hukum, dan pemerintah. Hal ini sangat mempengaruhi keputusan pemasaran karena lembaga politik dapat membatasi suatu organisasi dalam masyarakat.
4.      Kemajuan IPTEK
Adanya perkembangan IPTEK  dan obat-obatan menjadikan perubahan gaya hidup yang ada di masyarakat. Sehingga menyebabkan dinamika tingkat kematian (mortalitas) dan tingkat kelahiran (fertilitas).
5.      Perubahan pola pikir di masyarakat
Di dalam masyarakat selalu terdapat tentang apa yang disebut gejala alam dan gejala sosial. Dimana gejala-gejala tersebut akan menghasilkan pola-pola tertentu yang bisa digunakan untuk membantu kita memahami gejala-gejala lain yang sifatnya lebih kontekstual.

C.     Permasalahan di Indonesia
Indonesia mengalami kenaikan angka kelahiran sebelum Indonesia menjalani proses industrialisasi.
D.    Program untuk mengatasi permasalahan tersebut
Penurunan angka kelahiran Indonesia dilakukan dengan cara menjalankan program KB atau keluarga berencana. Dalam menjalankan program KB digalakkan juga pemakaian alat kontrasepsi sehingga angka kelahiran bisa ditekan. Indonesia adalah negara dengan jumlah  penduduk terbesar ke empat di dunia. Dengan luas wilayah yang seperti ini, semakin terlihat  jelas bahwa Indonesia adalah masih menjadi negara berkembang. Biasanya ciri-ciri negara  berkembang adalah memiliki penduduk yang masih mempunyai anak banyak. Seperti kita tahu, masyarakat Jawa pada beberapa generasi lalu adalah masyarakat dengan jumlah anak yang bisa dibilang banyak. Jumlah anak 10 atau lebih itu menjadi lumrah. Itu menunjukkan  bahwa masyarakat Indonesia masih belum mempunyai kebudayaan atau gaya hidup sebagai masyarakat modern.
Gambaran Transisi Demografi Indonesia Tahun 1950-2050
Sumber : World Population Prospect, Economic and Social Affairs, UN
Keterangan:
Garis yang berwarna biru itu menggambarkan angka kelahiran.
Garis yang berwarna merah itu menunjukkan angka kematian.

E.     Saran kepada pemerintah untuk mengatasi permasalahan

Indonesia masih menjalani proses menuju kondisi yang stabil yaitu dengan melakukan sosialisasi mengenai program KB dan pengetahuan alat kontrasepsi kepada masyarakat di pedesaan oleh pemerintah dinas kesehatan. Semakin berkembangnya  jaman kebiasaan memiliki anak banyak juga sudah mulai ditinggalkan, proses industrialisasi sudah semakin membaik, dan angka kelahiran sudah cukup berhasil ditekan. Tidak khayal, beberapa waktu yang akan datang Indonesia akan mencapai keadaan yang stabil dan menyelesaikan transisi demografi.
Tenaga kesehatan yang berkualitas tentunya sudah mulai dipikirkan kriterianya, demikian pula jenis dan pendidikan tenaga kesehatan yang diperlukan. Sistem perencanaan kesehatan, peran Departemen Kesehatan Pusat terhadap daerah, penelitian dasar, nuclear bilogi dan operasional serta sistem informasi kesehatan yang tepat guna tentunya perlu untuk dipikirkan. Peranan LSM, organisasi profesional, dan swasta perlu mendapat perhatian khusus di masa depan. Mungkin, diperlukan pula pelaksanaan kebijaksanaan kesehatan tertentu yang diakui dengan penelitian longitunal tertentu.







DAFTAR PUSTAKA
Lembaga Demografi FE UI. 1981. Dasar-Dasar Demografi Edisi 2000. Jakarta: Lembaga Penerbit F.E.U.I.
Siregar, Kemal N. dan Agus Suwandono. Artikel: Transisi Demografi di Indonesia: Seabad?. Media Litbangkes Vol. II No. 01/1992
Sudarti. 2003. Jurnal Penelitian: Transisi Demografi Penduduk Jawa Timur. Malang: Lembaga Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang.
World Population Prospect, Economic and Social Affairs, UN.


1 komentar:

Unknown mengatakan...

Sesama Unnes,satu angkatan, saling bantu yak :D

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates