TRANSISI
DEMOGRAFI
Disusun
oleh
Rosyana
Anggraen
Rombel
4
6411414089
IKM
UNNES
A. Pengertian
Transisi Demografi
Transisi
Demografi adalah proses perubahan kematian dan kelahiran yang berlangsung dari
tingkatan yang tinggi ke tingkatan yang rendah dalam suatu kurun waktu pada
masyarakat tertentu. Transisi Demografi muncul akibat perubahan yang terjadi di
masyarakat, diantaranya adalah masalah sosial ekonomi yang memiliki hubungan
timbal balik terhadap kesehatan. Transisi Demografi di Indonesia telah
didahului dengan revolusi penurunan kematian dan dewasa ini sedang terjadi
revolusi penurunan kelahiran. Angka yang memperhitungkan kemungkinan si bayi
perempuan meninggal sebelum mencapai masa reproduksinya atau yang biasa disebut
NRR (Net Reproduction Rate) pada beberapa provinsi sedang mendekati 1 yaitu DI
Yogyakarta, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Bali. Konon menyusul Sulawesi Utara.
Dengan NRR sama dengan satu, rata-rata seorang ibu setelah masa hidupnya akan
diganti oleh seorang anak perempuannya, dengan kata lain ada pertumbuhan
kelahiran pada penduduk.
Di
balik Transisi Demografi ada pembangunan, hakekat pembangunan adalah perubahan.
Yaitu perubahan yang selalu menuju masyarakat yang lenih baik. Dalam rangka
inilah berkembang berbagai paradigma pembangunan nasional. Pembangunan nasional
Indonesia mengandalkan pertumbuhan, yang diukur dengan pertumbuhan pendapatan nasional. Dengan disadarinya
masalah distribusi pendapatan nasional ke tangan rakyat maka pemerataan menjadi
penting. Pembangunan pun dijalankan agar dapat berlanjut terus, tanpa harus
menguras habis sumber daya alam. Demikianlah, pembangunan nasional Indonesia
dijalankan untuk medapatkan pertumbuhan dengan pemerataan yang juga harus
bersifat berkelanjutan.
Seperti
yang diketahui bahwa sasaran utama umum pembangunan nasional jangka panjang
kedua adalah peningkatan kualitas hidup bangsa Indonesia yang tentunya juga
mencakup kualitas kesehatan bangsa. Dengan banyaknya faktor pengganggu baru
seperti kemajuan IPTEK, sedangkan faktor pengganggu lama yaitu pengaruh
kekentalan budaya belum dapat dituntaskan masalahnya, maka perlu kewaspadaan di
masa yang akan datang secara lebih serius.
Dalam
Transisi Demografi menurut Bogue (1965) tahap transisi adalah sebagai berikut:
1. Pratransisi
(Pre-Transitional)
Ditunjukkan
dengan tingkat fertilitas dan mortalitas yang tinggi. Pertumbuhan berada pada
tingkat yang tinggi dan berlangsung lama. Tingkat kematian yang tinggi dianggap
sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindarkan karena pada saat itu belum ada
sanitasi, transportasi dan pengobatan modern. Dengan tingkat kematian yang
tinggi dianggap sebagai sesuatu yang tidak memaksa masyarakat untuk menganut
nilai-nilai sosial budaya yang mendukung adanya tingkat kelahiran yang tinggi
sebagai imbangan agar dapat mempertahankan keturunan.
2. Tahap
Transisi (Transitional)
Ditunjukkan
dengan tingkat fertilitas tinggi dan mortalitas rendah. Tingkat kematian
(mortalitas) mulai rendah sebagai akibat dari proses pembangunan ekonomi dan
mulai meningkatnya taraf hidup. Akan tetapi, pada tahap ini tingkat kelahiran
(fertilitas) masih tinggi meskipun sudah ada kecenderungan untuk turun, tetapi
tingkat penurunanya masih lebih rendah dibanding dengan penurunan tingkat
kematian. Hal ini disebabkan nilai budaya pada waktu itu mendukung tingkat
kelahiran yang tinggi sudah membudaya
dan melembaga sebagai suatu kepercayaan, sikap dan nilai serta tergolong sulit
untuk berubah.
3. Tahap
Pasca Transisi (Past Transitional)
Dinyatakan
dengan tingkat fertilitas dan mortalitas sudah rendah. Tiap individu secara
sadar sudah mulai mengendalikan tingkat kelahiran. Pengendalian secara sadar
inilah yang menjadi ciri pokok dari tahap transisi akhir pada transisi
demografi. Selama tahap ini berlangsung tingkat kelahiran terus turun secara
perlahan menuju tingkat keseimbangan dan tingkat kematian yang sudah rendah.
Hampir semua masyarakat mengetahui cara pemakaian alat kontrasepsi. Tingkat
kelahiran dan kematian mendekati keseimbangan, pertumbuhan penduduk amat rendah
dalam jangka waktu yang panjang.
B. Penyebab
terjadinya Transisi Demografi
1. Tingkat
Kesehatan
Rendahnya
tingkat kesehatan di Indonesia dikarenakan pemerintah tidak bisa menempatkan
orang yang benar-benar mengerti tentang kesehatan program yang dipaksakan yang
jelas tidak bisa dijelaskan tetapi anggarannya banyak. Puskesmas daerah yang
banyak menyerap anggaran hanya membuat laoran di atas meja setiap tanggal 20-25
untuk tutup buku akhir bulan, di lapangan satu kerja bisa dilaksanakan lima
program dan dapat tanda tangan sekali jalan tanpa mau tahu programnya.
2. Keadaan
Geografis
Keadaan
geografis suatu tempat dapat dilihat dari kenyataannya di muka bumi atau letak
suatu tempat dalam kaitannya dengan daerah lain di sekitarnya. Keadaan ini
ditentukan oleh fenomena-fenomena geografis yang membatasinya.
3. Kebijakan
Politik
Dalam
lingkungan politik terdiri dari hukum, badan hukum, dan pemerintah. Hal ini
sangat mempengaruhi keputusan pemasaran karena lembaga politik dapat membatasi
suatu organisasi dalam masyarakat.
4. Kemajuan
IPTEK
Adanya
perkembangan IPTEK dan obat-obatan
menjadikan perubahan gaya hidup yang ada di masyarakat. Sehingga menyebabkan dinamika
tingkat kematian (mortalitas) dan tingkat kelahiran (fertilitas).
5. Perubahan
pola pikir di masyarakat
Di
dalam masyarakat selalu terdapat tentang apa yang disebut gejala alam dan
gejala sosial. Dimana gejala-gejala tersebut akan menghasilkan pola-pola tertentu
yang bisa digunakan untuk membantu kita memahami gejala-gejala lain yang
sifatnya lebih kontekstual.
C. Permasalahan
di Indonesia
Indonesia
mengalami kenaikan angka kelahiran sebelum Indonesia menjalani proses
industrialisasi.
D. Program
untuk mengatasi permasalahan tersebut
Penurunan angka kelahiran Indonesia dilakukan dengan
cara menjalankan program KB atau keluarga berencana. Dalam menjalankan program
KB digalakkan juga pemakaian alat kontrasepsi sehingga angka kelahiran bisa
ditekan. Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar ke empat
di dunia. Dengan luas wilayah yang seperti ini, semakin terlihat jelas
bahwa Indonesia adalah masih menjadi negara berkembang. Biasanya ciri-ciri negara
berkembang adalah memiliki penduduk yang masih mempunyai anak banyak.
Seperti kita tahu, masyarakat Jawa pada beberapa generasi lalu adalah
masyarakat dengan jumlah anak yang bisa dibilang banyak. Jumlah anak 10 atau
lebih itu menjadi lumrah. Itu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia
masih belum mempunyai kebudayaan atau gaya hidup sebagai masyarakat modern.
Gambaran
Transisi Demografi Indonesia Tahun 1950-2050
Sumber
: World Population Prospect, Economic and Social Affairs, UN
Keterangan:
Garis yang
berwarna biru itu menggambarkan angka kelahiran.
Garis yang
berwarna merah itu menunjukkan angka kematian.
E.
Saran kepada pemerintah untuk mengatasi permasalahan
Indonesia masih menjalani proses menuju kondisi yang
stabil yaitu dengan melakukan sosialisasi mengenai program KB dan pengetahuan
alat kontrasepsi kepada masyarakat di pedesaan oleh pemerintah dinas kesehatan.
Semakin berkembangnya jaman kebiasaan memiliki anak banyak juga sudah
mulai ditinggalkan, proses industrialisasi sudah semakin membaik, dan angka
kelahiran sudah cukup berhasil ditekan. Tidak khayal, beberapa waktu yang akan
datang Indonesia akan mencapai keadaan yang stabil dan menyelesaikan transisi
demografi.
Tenaga
kesehatan yang berkualitas tentunya sudah mulai dipikirkan kriterianya,
demikian pula jenis dan pendidikan tenaga kesehatan yang diperlukan. Sistem
perencanaan kesehatan, peran Departemen Kesehatan Pusat terhadap daerah,
penelitian dasar, nuclear bilogi dan operasional serta sistem informasi
kesehatan yang tepat guna tentunya perlu untuk dipikirkan. Peranan LSM, organisasi
profesional, dan swasta perlu mendapat perhatian khusus di masa depan. Mungkin,
diperlukan pula pelaksanaan kebijaksanaan kesehatan tertentu yang diakui dengan
penelitian longitunal tertentu.
DAFTAR
PUSTAKA
Lembaga
Demografi FE UI. 1981. Dasar-Dasar
Demografi Edisi 2000. Jakarta: Lembaga Penerbit F.E.U.I.
Siregar,
Kemal N. dan Agus Suwandono. Artikel: Transisi Demografi di Indonesia: Seabad?.
Media Litbangkes Vol. II No. 01/1992
Sudarti.
2003. Jurnal Penelitian: Transisi
Demografi Penduduk Jawa Timur. Malang: Lembaga Penelitian Universitas
Muhammadiyah Malang.
World
Population Prospect, Economic and Social Affairs, UN.



1 komentar:
Sesama Unnes,satu angkatan, saling bantu yak :D
Posting Komentar